Cari Blog Ini

Memuat...

mau mau ku

luca valdesi kata

kumite

kata karate championship

karate kumite

bunkai chtanyara kushanku

kumite WKF

Rabu, 23 Februari 2011

Sejarah KEI SHIN KAN Parepare


KEI SHIN KAN PAREPARE
                Sejarah KEI SHIN KAN Kota Parepare, di mulai sejak sekitar tahun 90-an, ketika salah satu karateka legendaris “SENSEI ROBY” Dan III Membuka Dojo perdana di Kota Parepare, diikuti Oleh sekitar 100 Karateka Muda, Seiring Perjalanannya telah membawa prestasi – prestasi Kebanggan KEI SHIN KAN, dan Karateka – Karateka Berbakat, Perkembangan Karate dari setiap perguruan karate yang lebih dulu merajai kota parepare tidak mengubah sedikitpun prinsip KEI SHIN KAN, “Kami Bukan aliran, tapi kami adalah perguruan  yang tidak terikat oleh prinsip dasar tiap aliran karate”, kata Simpai Daniel Young DAN II IKSSKA, sehingga KEI SHIN KAN Parepare, di penuhi oleh berbagai Jenis Kata dari tiap-tiap aliran, Cara Bertarung KEI SHIN KAN, lebih dominan ke arah Kyokusin yaitu prinsip Full Body Contact, Hal ini tergambar dari Ujian Kenaikan Tingkat Karate Bagi para Peserta Kyu IV di haruskan mampu melakukan Sparring Tanpa alat Pengaman.
                Beberapa Tahun Berlalu, Dojo demi Dojo baru berdiri, dari keringat Para Karateka-Karateka KEI SHIN KAN memupuk sekian banyak karateka berbakat, Jasa para pendiri KEI SHIN KAN di Kota Parepare ini tidak dapat di balas dengan apapun, karena merekalah, KEI SHIN KAN berjaya mengukir sekian prestasi. Berikut Dojo – Dojo KEI SHIN KAN di Parepare
No
Nama Dojo
Penanggung Jawab
Tahun
Keterangan
1
SDN 53 &; 23 Parepare
- Simpai Daniel
- Simpai Azis
- Simpai Bayam
- Sensei Roby
2008 - Sekarang
Dojo Utama
2
SMPN 12 Parepare
- Simpai Azis
2009 - Sekarang

3
SMPN 1 Lasinrang
- Simpai Azis
2010 - Sekarang

4
SMPN 2 Parepare
- Simpai Bayam
2007 - Sekarang

5
SDN 71 Parepare
- Simpai Suprahmad
2008 -Sekarang

6
Koramil Pinrang Suppa
- Simpai Azis
2007 - Sekarang


                Berikut Nama Kesatria KEI SHIN KAN Parepare, yang berjasa menjayakan KEI SHIN KAN Parepare
No.
Nama Pelatih
Keterangan
1
Sensei Roby (DAN III KSK), (DAN I JUDO), (DAN II AIKIDO)
Pendiri KEI SHI KAN Parepare
2
Simpai Natshir A.MT ( DAN II IKKSKA)
Kepala Pelatih KEI SHIN KAN Parepare
3
Simpai Daniel Yong (DAN I IKKSKA) (DAN II KSK)
Instruktur Pelatih KEI SHIN KAN
4
Simpai Abdul Wayan ( DAN II KSK)
Bidang Pengasahan Bakat FORKI
5
Simpai Abdul Azis (DAN II KSK)
Bidang Penguji Fisik KEI SHIN KAN
6
Simpai Syarifuddin (DAN II KSK)
Bidang Penguji Tekhnik KEI SHIN KAN
7
Simpai Nurwana (DAN I KSK)
Tim Pelatih KEI SHIN KAN

                Catatan Prestasi KEI SHIN KAN Parepare

No.
Tahun
Catatan Prestasi
Event
1
2009
Juara 2 Kata Perorangan Putri Pemula
Kejuaraan Daerah Karate Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan

Juara 3 Kumite Junior Putra

Juara 3 Kata beregu Putra

Juara 2 Kumite Perorangan Putri Cadet

Juara 3 Kumite Perorangan Putra Senior
2
2010
Juara 2 Kumite Perorangan Putra Junior
Open Tournament Karang Taruna Kota Parepare 2010

Juara 2 Kumite Perorangan Putri Cadet

Juara 1 Kumite Perorangan Putri Pemula

Juara 1 Kumite Perorangan Putra Pemula

Juara 1 Kata Perorangan Putra Pemula

Juara 2 Kata Perorangan Putra Pemula

Juara 3 Kata Perorangan Putra Pemula

Juara 1 Kata Perorangan Putri Pemula

Juara 2 Kata Perorangan Putri Pemula

Juara 2 Kumite Perorangan Putri Pemula

Juara 1 Kumite Perorangan Putra Pemula
O2SN Tingk. Kota Parepare

Juara 1 Kumte Perorangan Putri Pemula

Juara 2 Kumite Perorangan Putri Cadet

Juara 2 Kata Perorangan Putri Pemula

Juara 2 Kumite Perorangan Putra Pemula
O2SN Tingkat Provinsi Makassar

Jura 2 Kumite Perorangan Putri Pemula

Mengirimkan 13 Atlet Ke KEJURNAS Piala MENDAGRI XIV dan MENDIKNAS III 2010
Kejurnas Piala Mendagri XIV dan MENDIKNAS III Makassar5




Minggu, 13 Februari 2011

Sejarah Dan Perkembangan KEI SHIN KAN


Okinawa adalah daratan yang terbesar di antara kepulauan Ryukyu yang terbentang dari Jepang sampai Taiwan, luasnya kira-kira 460 mil terletak kira-kira 300 mil ke Selatan dari Ujung Selatan daratan utama, 300 nautical mil Utara Taiwan dan 400 nautical mil sebelah Timur Cina. Disini arus panas dari Laut Kuning, Laut Cina Timur dan Pasifik bertemu. Di pulau Okinawa inilah pertama kali lahir apa yang kemudian disebut KARATE.

Pada abad XV Okinawa mengalami pembauran kebudayaan dengan negara-negara Asia dan Te berkembang juga menyerap aspek-aspek seni yang cocok dari beberapa Negara termasuk Cina, sehingga timbul dugaan bahwa Karate berasal dari daratan Cina. Sesungguhnya ada perbedaan antara Te dengan seni beladiri Cina yang dilukiskan baik dalam bentuk puisi maupun sejarah seni beladiri.

Di daerah Okinawa terkenal beladiri yang disebut Shuri-Te. Naha-Te dan Tomari-Te, tetapi di luar Okinawa orang-orang Jepang menyebutnya dengan Okinawa-Te. Di daerah Shuri terkenal dengan tokohnya Ankoh Yasutsune Itosu yang melatih sejumlah karateka-karateka istimewa yang diantaranya adalah Kensu Yabu, Chomo Nagasino, Gichin Funakoshi , Chotoku Kyan, Kenwa Mabuni, Shinpan Gusukma, Moden Yabiku, Chosin Chibana, Kiyatake dan Kanken Tiyama. Kanken Toyama pernah menjadi instruktur pembantu terbaik selama bertahun-tahun, disamping itu pernah belajar pada tokoh Naha-Te Higaonna Kanryo dan Chosin Chibana ahli Kobujutsu dari Shuri.

Di daerah Shuri inilah mula-mula terlihat adanya bentuk beladiri KATA atau keserasian jurus-jurus yang cepat , kuat dan lincah. Ciri-ciri inilah yang selanjutnya menjadi dasar gerakan KEI SHIN KAN. Di daerah Naha bentuk KATA atau keserasian jurus-jurus yang dimiliki berbeda, yaitu kokoh dan berakar. Di daerah ini terkenal dengan tokohnya yang bernama Higaonna Kanryo. Ia mempunyai murid istimewa bernama Choyun Miyagi. Di daerah Tomari terkenal dengan tokohnya yang bernama Whichi. Bentuk latihannya tidak jauh berbeda dengan gaya Shuri tetapi semu pengikutnyanya menyebut dengan gaya Whichi-Ryu.
Berhubung tiap bagian tertutup bagi bagian yang lain , maka Karate mengalami perkembangan dalam bentuk yang berbeda-beda. Tokoh dari Shuri-Te yaitu Ankoh Yasutsune Itosu dan tokoh dari Naha-Te Higaonna Kanryo memiliki keyakinan pada ajaran-ajaran lama yang mengatakan bahwa banyak cara untuk melakukan Karate-do dan untuk mencapai puncak seni keberanian / keperkasaan ini, keduanya tidak membentuk gaya / aliran meskipun puncak mereka berbeda dalam banyak aspek.

Suatu lagu rakyat Okinawa mengatakan :
"Walau kita mengambil jalan-jalan yang berbeda untuk mencapai gunung kayu, masing-masing dari kita mencapai tujuan dan menghargai / menyanjung bulan bila kita sampai ke puncak."

Lagu tersebut mempunyai arti, kita dapat mencapai tujuan yang sama dalam mempelajari apapun yang kita pilih. Tujuannya tidaklah membedakan antara gaya-gaya dalam filosofi / filsafat yang mendalam, tetapi mereka mengambil sesuatu yang umum.
Salah seorang tokoh Ankoh Yasutsune Itosu dari Shuri yag terkenal dalam sejarah perkaratean yang juga tidak membuat gaya / aliran tersendiri adalah Kanken Toyama yang lahir di Shuri Okinawa tahun 1888 dan meninggal dunia pada tahun 1966. Kanken Toyama dating ke daerah Miguro Tokyo untuk memberiikan latihan secara umum. Karatenya diberi nama Shodokan, Shodokan bukanlah sebuah aliran tetapi hanya sebuah nama alamat. Alasan dia tidak membuat gaya / aliran tersendiri adalah bahwa di dalam Karate perkembangannya tidak terbatas.
Seni beladiri itu adalah seseuatu yang hidup dan berkembang serta merupakan proses pembinaan yang tidak pernah berakhir. Gaya / aliran itu sangat terikat dengan pendiri masing-masing atau sekolah sekolah, sehinggan membatasi perkembangan seni beladiri Karate dan dapat merugikan pengikut seni keberanian / keperkasaan ini.

Semua KATA yang dipertandingkan di dunia berasal dari 3 daerah Okinawa tersebut yaitu Shuri-Te, Naha-Te dan Tomari-Te. Setelah meninggalnya para penemu Karate tersebut, murid-muridnya sebagian mendirikan aliran Karate dan memodifikasi jenis KATA untuk kepentingan perguruannya. Akhirnya bentuk ciri-ciri inilah yang menjadi kiblat dunia perkaratean sekarang.Kita patut merenungi pemikiran Tei Junsoku, seorang sarjana kenamaan di Okinawa yang lahir tahun 1663 dan sering disebut Nago Oyakata pernah membuat sajak ketika ia melihat pertunjukan tradisional Okinawa-Te yang disebut TOTE . Ia menulis sajak yang menyebutkan bahwa dalam kehidupan manusia, Te sangatlah berguna.Bagaimanapun juga, kamu bolah melebihi atau mengungguli seni TE dan berusaha keras untuk mempelajarinya, tetapi yang lebih penting dari semu itu adalah kelakuanmu dan perikemanusiaan sebagai pandangan dalam kehidupan sehari-hari.

Di antara murid-murid Kanken Toyama yang paling menonjol dan memiliki keistimewaan adalah MASANAO TAKA ZAWA yang mana orangtuanya adalah teman dekat Kanken Toyama. Masanao Takazawa berlatih Karate hingga mencapai tingkatan DAN IX Hanshi Karate, Judo DAN VI, Kendo DAN V, Aikido V, Iaido DAN V, serta Kodachi.

Kemudian MASANAO TAKAZAWA mendirikan perguruan Karate KEI SHIN KAN.
Kei Shin Kan bukanlah suatu gaya / aliran, tetapi merupakan nama sebuah tempat latihan di depan stasiun kereta api di Takashima Daira-Tokyo, dilantai IV dan hingga sekarang digunakan sebagai pusat laihan International KEI SHIN KAN Karate Association.

Adapun nama KEI SHIN KAN mempunyai arti tersendiri, yaitu :
KEI berarti kerendahan hati,
SHIN berarti hati dan Jiwa,
KAN berarti balai / tempat latihan ( tempat mencari kesempurnaan hidup melalui Karate )

KEI SHIN KAN mengajarkan untuk menghormati diri , menghormati orang lain yang patut dihormati dan membantu membentuk keyakinan dalam kesanggupan membela diri serta menghindari kekerasan ( bukan berarti takut dan menghindarkan diri dari perkelahian melawan kejahatan ).

Sejarah KEI SHIN KAN telah berlangsung selama setengah abad lamanya di Negara asalnya dan telah menyebar ke berbagai Negara yang jauh termasuk Indonesia.

KEI SHIN KAN di Indonesia didirikan oleh JOHN ANGKAWIDJAJA pada tanggal 27 April 1974, dimana sebelumnya beliau pernah belajar Karate di Jepang.
Kemajuan dan perkembangan KEI SHIN KAN di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Sensei JOHN ANGKAWIDJAJA yang sangat mencintai beladiri karate. Untuk meningkatkan kualitas serta kemajuan teknik Karate KEI SHIN KAN di Indonesia, beliau sering mendatangkan pelatih dari Jepang serta mengirim karateka-karateka berprestasi ke luar negeri.

Tahun 1974, beliau mendatangkan KAZUYUKI UEMATSU DAN IV, awal tahun 1975 KISAKU UCHIDA DAN VII. Pada tanggal 15 September 1975 KEI SHIN KAN KARATE-DO INDONESIA menyelenggarakan pertandingan terbuka tingkat International di Jakarta yang diikuti oleh 6 (enam) Negara sahabat dan anggota FORKI, yang dihadiri pula oleh pimpinan tertinggi International KEI SHIN KAN Karate Association dari Jepang yaitu Shihan MASANAO TAKAZAWA DAN IX dengan beberapa muridnya yang juga ambil bagian dalam pertandingan International tersebut.
Di antaranya TOSHITAKA KOIKE DAN V, YASUO SUZUKI DAN IV, HIROSHI GEMA DAN III, dan MASASHI ISHI DAN III.YASUO SUZUKI pernah tinggal di Jakarta tahun 1975-1977 dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi perguruan KEI SHIN KAN KARATE-DO INDONESIA karena pada saat itu merupakan satu-satunya perguruan Karate yang mampu menyelenggarakan pertandingan bertaraf International.

Pertandingan bertaraf Internasional berikutnya berlangsung di Semarang pada tanggal 14-16 Juli 1995 yang mana dihadiri oleh Negara Jepang, Singapura dan 10 Pengda Kei Shin Kan Karate-Do Indonesia. Hadir dalam pertandingan tersebut, President International Kei Shin Kan Karate Association Shihan MASANAO TAKAZAWA DAN IX beserta istri, Sensei EIICHI YAMAZAKI DAN VIII yang merupakan Kepala Pelatih JKF ITABASHI sekaligus Kepala Pelatih International Kei Shin Kan Karate Association-Tokyo beserta istri dan dua orang muridnya yaitu NAKAMURA TSUNEO dan MASAHIKO ONIWA yang juga ambil bagian dalam pertandingan tersebut serta 10 orang Karateka senior dan yuior dari Singapura yang dipimpin oleh Sensei JAKSON TAN DAN V , MICHAEL WONG, FRANCIS YAUW dan CHEN LAI YONG. Shihan BAMBANG DEWANTORO (Alm) DAN VII sebagai pengganti Sensei JOHN ANGKAWIDJAJA yang telah menetap di Amerika sejak tahun 1978, mengikuti langkah-langkah yang telah ditempuh pendahulunya memperdalam Karate di Jepang, dan setiap tahun mengikuti kegiatan International Kei Shin Kan Karate Association serta mendatangkan pelatih-pelatih dari luar negeri seperti Sensei TAN SONG YONG DAN IV dari Singapura pada tahun 1979 dan Sensei JAKSON TAN DAN V pada tahunb 1981. Kepala Pelatih Singapura, tahun 1983 Sensei KISAKU UCHIDA DAN VII dari Australia, tahun 1986 Sensei EIIICHI YAMAZAKI DAN VII, Sensei SADAO UENO DAN V, Sensei HIROSHI IJIMA DAN V dari Jepang.

Setiap tahunnya mengirim karateka-katateka berprestasi ke Jepang untuk mengikuti latihan dan pertandingan serta berhasil membawa nama Karateka Indonesia ( JOKO PRAKOSO ) meraih Juara ke II Komite Perorangan Yunior dan Juara II KATA Perorangan Yunior pada Kejuaraan International 5 Agustus 1990 di NAGANO Jepang. Karateka KEI SHIN KAN Indonesia yang pernah meraih porestasi Internasional adalah Bambang Dewantoro, Denny Bestaret dan Rusdy Hanto Darmawan.

Dari Jakarta Kei Shin Kan Karte telah menyebar ke 13 Propinsi di Indonesia dan sejalan dengan perkembangannya. Tanggal 3 Desember 2005 adalah hari kelabu bagi perguruan KEI SHIN KAN Karate-Do Indonesia dimana KEI SHIN KAN Karate-Do Indonesia telah kehilangan seorang putra terbaiknya yang merupakan figure yang mana semasa hidupnya selalu mendedikasikan dan selalu memikirkan kemajuan serta perkembangan KEI SHI KAN Karate-Do Indonesia, pada itu Shihan Bambang Dewantoro meningggal dunia di Semarang.

Selamat Jalan Shihan, kami tetap mendoakan dan mengingat jasamu.Setelah Shihan Bambang Dewantoro meninggal, maka Grand Master MASANAO TAKAZAWA selaku President International KEI SHIN KAN Karate Association menunjuk Sensei Rusdy Hanto Darmawan DAN V sebagai Kepala Pelatih Pusat KEI SHIN KAN Karate-Do Indonesia untuk melanjutkan dan mengembangkan seni beladiri karate khususnya KEI SHIN KAN Karate-Do Indonesia untuk masa bakti 2005-2009 dipimpin oleh Leonard Mamahit DAN II, dimana di bawah kepemimpinan beliau akan diselenggarakan Kejuaraan Nasional III pada tanggal 9 dan 10 Desember 2006.

Selain itu untuk meningkatkan keberadaan Kei Shin Kan Karate-Do Indonesia dan untuk regenerasi ke depan serta seseuai dengan visi, misi dan motto, maka pada kesempatan Kejurnas III ini juga akan diadakan Ujian Kenaikan Tingkat Sabuk Hitam Nasional KEI SHIN KAN Karate-Do Indonesia pada tanggal 7 dan 8 Desember 2006.

VISI, MISI dan MOTTO

VISI

MENJADI PERGURUAN KARATE YANG BERPRESTASI BERLANDASKAN SAPTA PRASETYA DAN JANJI KARATE KEI SHIN KAN

MISI

MEGEMBANGKAN DOJO DAN POTENSI ANGGOTA BERLANDASKAN SAPTA PRASETYA DAN JANJI KARATE KEI SHIN KAN

MOTTO

RENDAH HATI, DISIPLIN DAN BERPRESTASI

Jumat, 05 November 2010

karate dasar

Karate) adalah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut "Tote” yang berarti seperti “Tangan China”. Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan'. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong” ( kongshou).
Kunci seorang karateka, adalah ia harus mampu menggunakan minda dan perasaannya dalam menggunakan seni bela diri ini, selain itu nafas menjadi faktor penting dalam setiap kihon, yang mampu menampilkan power secara maksimal, dengan nafas pula karateka mampu menyimpan tenaga, seorang karateka senior(sempai), sudah dapat menggunakan nafasnya dengan optimal, baik itu kihon, kumite, terlebih dalam pengambilan kata.
Menurut Zen-Nippon Karatedo Renmei/Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), yang dianggap sebagai gaya karate yang utama yaitu:
  1. Shotokan
  2. Goju-Ryu
  3. Shito-Ryu
  4. Wado-Ryu
Keempat aliran tersebut diakui sebagai gaya Karate yang utama karena turut serta dalam pembentukan JKF dan WKF.
Namun gaya karate yang terkemuka di dunia bukan hanya empat gaya di atas itu saja. Beberapa aliran besar seperti Kyokushin , Shorin-ryu dan Uechi-ryu tersebar luas ke berbagai negara di dunia dan dikenal sebagai aliran Karate yang termasyhur, walaupun tidak termasuk dalam "4 besar WKF".
Di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate seluruh Jepang adalah JKF. Adapun organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (dulu dikenal dengan nama WUKO - World Union of Karatedo Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan Karate yang bersifat "tanpa kontak langsung", berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang "kontak langsung".
Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:
  1. Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti teknik memukul, menendang dan menangkis.
  2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.
  3. Kumite, yaitu latihan tanding atau sparring.

Teknik Karate

Teknik Karate terbagi menjadi tiga bagian utama : Kihon (teknik dasar), Kata(jurus) dan Kumite (pertarungan). Murid tingkat lanjut juga diajarkan untuk menggunakan senjata seperti tongkat (bo) dan ruyung (nunchaku).

Kihon

Kihon (基本:きほん, Kihon?) secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite.
Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.

Kata

Kata (型:かた) secara harfiah berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya merupakan latihan fisik atau aerobik biasa. Tapi juga mengandung pelajaran tentang prinsip bertarung. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda.
Dalam Kata ada yang dinamakan Bunkai. Bunkai adalah aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata.
Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata. Sebagai contoh : Kata Tekki di aliran Shotokan dikenal dengan nama Naihanchi di aliran Shito Ryu. Sebagai akibatnya Bunkai (aplikasi kata) tiap aliran juga berbeda. adapun beberapa kata terkenal yang sering di gunakan oleh pemain internasional maupun lokal antara lain sebagai berikut:
Kata Heian
Di Pulau Okinawa, seri kata ini aslinya bernama “ Pinan” kata. Nama Heian diberikan oleh Sensei Gichin Funakoshi dan khalayak mengartikan Heian dengan “Pikiran yang sangat tenang”. Pemberian nama Heian kata memperlihatkan bahwa kata ini memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam mempelajarinya, satu sampai lima. Kecuali Heian dan Tekki kata, kata aliran shotokan tidak menggunakan nama yang menggunakan penomoran.

Kata Tekki
Seri kata ini terdiri dari 3 (tiga) kata yang aslinya bernama Naihanchi Kata. Sensei Gichin Funakoshi mengganti namanya menjadi Tekki. Nama Tekki diambil dari kata “Tetsu” yang berarti besi atau baja, dan “Ki”  yang berarti pengendara kuda atau Pahlawan Berkuda. Dan kemudian Tekki diartikan sebagai Pahlawan berkuda dengan pakaian besi/baja ( knight ).

Kata Dai dan Sho
Dalam tulisan kanji jepang, kata “Dai” dan “Sho” secara sederhana memiliki arti “besar” dan “kecil”. Walaupun telah terjadi kesalahan konsep kata, kata “Dai” tidak lagi atau kurang dari dari kata “Sho”.Kata Gojushiho telah membuktikannya. Versi “Dai” dari kata Gojushiho pada kenyataannya lebih kecil dari versi “Sho”. Tetapi secara umum pengertian “Dai” lebih dari “Sho” tetap digunakan hingga saat ini.

Hirearki Mempelajari Kata
Dalam mempelajari Kata haruslah terprogram dengan baik sesuai dengan perkembangan tehnik dasar karate yang dikuasai. Sangatlah penting jika dalam mempelajari Kata harus didampingi oleh senpei/sensei yang bertugas sebagai  instruktur. Setiap tingkat kata memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, makin tinggi kata yang dimainkan makin tinggi pula penguasaan tehnik dasar karate yang disyaratkan. Mempelajari Kata akan sangat berkaitan dengan hirearki dalam karate. Dibawah ini dapat dilihat tingkatan/hirearki dalam mempelajari Kata.


Kyu 9              Heian Shodan
Kyu 8              Heian Nidan
Kyu 7              Heian Sandan
Kyu 6              Heian Yondan
Kyu 5              Heian Godan
Kyu 4              Tekki Shodan
Kyu 3              Bassai-Dai
Kyu 2              Bassai-Dai
Kyu 1              Bassai-Dai
Shodan ( Sabuk hitam Dan I )
                        Bassai-Dai dan salah satu Kata Heian atau Tekki
Nidan ( Sabuk hitam Dan II )
                        Kelas A/B dan salah satu kata kelas A
Sandan ( Sabuk hitam  Dan III )
                        Kelas A/B/C dan salah satu kata kelas A/B
Yondan/Godan ( Sabuk hitam Dan IV/V )
                        Kelas A/B/C/D dan salah satu kata kelas A/B/C

Kelas A           : Tekki Nidan,Bassai-Dai, Kanku-Dai, Hangetsu, Empi.
Kelas B           : Tekki Sandan, Gion, Gankaku, Jutte/Jitte.
Kelas C           : Bassai-Sho, Kanku-Sho,Sochin, Chinte, Nijushiho.
Kelas D           : Gojushiho-Sho, Gojushiho-Dai, Unsu.




26 KATA ALIRAN SHOTOKAN

KATA HEIAN

Heian berarti “Fikiran penuh kedamaian”.Kata ini adalah kata pertama dari lima Kata tingkat dasar, yang diciptakan oleh Yasutsune Itosu ( salah satu guru Gichin Funakoshi).Meskipun tidak diketahu bagaimana Kata Heian ini diciptakan, tetapi banyak yang berpendapat bahwa Heian merupakan bagian dari Kata yang lebih tinggi tingkatannya yaitu Kata Kanku-Dai. Itosu menciptakan Kata Heian untuk memperkenalkan karate kedalam kurikulum sekolah untuk menghilangkan kesan tehnik yang berbahaya yang terdapat pada kata lanjutan.
Heian Kata merupakan Kata Shorin, yang memperlihatkan kekuatan dan fleksibelitas gerakan.

Hal Penting
Sikap kedepan dan Pukulan gerak maju . Memiliki 21 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.


Heian Nidan berarti seri Heian yang kedua. Aslinya Kata ini merupakan Kata yang pertama, tetapi Gichin Funakoshi merubahnya, karena Kata ini lebih sulit untuk dipelajari maupun mengajarinya. Kata ini berhubungan dengan Kata Bassai-Dai.

Hal Penting
Sikap balik kebelakang,tendangan menyamping,membalikan posisi pinggang/pinggul dan kombinasi tehnik.
Memiliki 26 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.


Heian Sandan berarti Heian yang ketiga dari seri Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Jitte.

Hal Penting
Sikap kesamping dan tangkisan atas ( atas bahu/kepala ). Memilki 20 gerakan dengan waktu aplikasi 40 detik.


Heian Yondan berarti Heian keempat dari seri Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Kanku-Dai.

Hal Penting
Pengembangan/kontraksi, tangkisan dan tehnik penyelesaian. Memiliki 27 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.

Heian Godan berarti Kata Heian kelima dari Seri Kata Heian. Kata ini berhubungan dengan Kata Gankaku.

Hal Penting
Flesibelitas dan Keseimbangan. Memiliki 23 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.



KATA TEKKI

6.         TEKKI SHODAN
Tekki berarti kuda besi atau posisi berkuda. Tekki Shodan adalah kata Tekki pertama dalam seri Kata Tekki. Kata Tekki adalah Kata Shorei, menggambarkan kekuatan, tehnik yang penuh tenaga. Kata Tekki diciptakan dan direvisi oleh Yasutsune itosu. Funakoshi menghabiskan waktu tiga tahun untuk belajar dan menguasai masing-masing Kata Tekki ini ( pada waktu itu, setiap murid menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari Kata ).
Tekki Shodan mempunyai nama asli Naihanchi dan diperkenalkan oleh Itosu, Tekki Nidan dan Sandan diciptakan oleh Itosu.
Belum ada penjelasan yang memadai kenapa Tekki memiliki perlintasan gerakan satu garis, meskipun kadang terpikir dilakukan dengan baju besi dan/atau diatas punggung kuda (hal ini tidak bisa diaplikasikan secara teknis). Makna dari Kata ini  dapat juga pertahanan dengan latar belakang dinding/tembok atau diatas perahu.

Hal Penting
Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul, dan sikap kesamping. Memiliki 29 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.


7.         TEKKI NIDAN
Tekki Nidan berarti Kata kedua dari seri Kata Tekki. Tekki Nidan dan Tekki Sandan dipelajari untuk pertama kali pada level sabuk Coklat, tetapi tidak dipelajari secara intensif hingga tingkat sabuk hitam.

Hal Penting
Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul dan sikap kesamping. Memiliki 24 gerakan , dengan waktu aplikasi 50 detik.


8.         TEKKI SANDAN.
Tekki Sandan berarti Kata Tekki yang ketiga dari seri Kata Tekki.

Hal Penting
Posisi badan rendah yang kuat, getaran pinggul dan sikap kesamping. Memiliki 36 gerakan dengan waktu aplikasi 50 detik.


KATA LANJUTAN

Bassai-Dai berarti menghancurkan pertahanan musuh dengan kecerdikan dan menemukan kelemahan lawan ( kebanyakan mengartikan “Gempuran yang sangat Kuat”). Kata ini dipelajari pada tingkat Kyu 3 hingga tingkat Shodan ( Dan I ). Aslinya disebut Passai, Kata ini pertama kali diperlihatkan di Tomari dan shuri. Bassai-Dai adalah Kata Shorin.

Hal Penting
Rotasi Pinggul, kekuatan penuh, semangat yang kuat dan luapan tenaga, ketidak-untungan harus menjadi keuntungan. Memiliki 42 gerakan, dengan waktu aplikasi 60 detik.


Bassai-Sho berarti lebih rendah dari Bassai-Dai. Kata Shorin ini diciptakan oleh Yasutsune Itosu. Kata ini lembut, tetapi penuh tenaga walaupun tidak seperti Bassai-Dai.

Hal Penting
Tangkisan yang sangat kuat dan serangan balik yang sangat tajam. Memiliki 27 gerakan.


Kanku-Dai berarti melihat dunia atau langit ( dari gerakan pertama ). Kata Dai menunjukkan bahwa Kata ini merupakan Kata Kanku terhebat.
Kanku-Dai bernama asli Kushanku, nama seorang ahli bela diri Cina yang datang ke Okinawa pada abad ke-18. Kata ini merupakan Kata favorit dari Gichin Funakoshi dan Kata ini yang beliau pilih untuk di demonstrasikan diluar Okinawa. Funakoshi yakin bahwa Kanku-Dai memiliki semua element dasar dari Karate Shotokan. Kata ini juga merupakan favorit Sensei Okazaki yang mendemonstrasikan kata ini di buku The Best Karate.
Kata ini juga menjadi bahan ujian sebagai Kata kedua dalam Ujian Nidan ( Dan II ).

Hal Penting
Tehnik yang cepat dan lamban, penuh tenaga dan lembut, pemekaran dan penciutan, dan lompatan dan membungkuk. Kata ini digunakan jika benar-benar terkepung oleh musuh. Keadaan/situasi juga merupakan hal penting, karena panjangnya kata. Memiliki 65 gerakan dengan waktu aplikasi 90 detik.



12.       KANKU-SHO
Kanku-Sho berarti Kata terendah didalam Kata Kanku. Kata Shorin ini merupakan perpaduan antara Heian Yondan dan Kanku-Dai.

Hal Penting
Penggunaan tenaga dengan benar, kecepatan dan pemekaran/penciutan dari otot. Memiliki 47 gerakan.


Jitte ( kadang dibaca Jutte) berarti tangan sepuluh atau keajaiban sepuluh. Kata Shorei ini berasal dari Tomari. Kata ini mungkin diperagakan dengan tongkat di tangan. Nama kata ini tidak mengalami perubahan  ( hanya Jitte dan Gion yang tidak mengalami perubahan ).

Hal Penting
Rotasi pinggul, dan tangkisan dengan tongkat. Memiliki 24 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.


Hangetsu berarti Bulan separuh/Setengah Bulan ( berarti juga nama sikap utama dalam Kata ). Kata ini adalah asli Cina dan nama aslinya adalah Seisan atau Seishan. Kata ini diperagakan pertama kali di Tomari. Kata ini adalah Kata Shorei.

Hal Penting
Pemekaran/penciutan, putaran lengan dan pergerakan kaki serta pernapasan. Memiliki 41 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.


Empi ( kadang disebut Enpi ) berarti Burung Wallet Terbang. Kata Shorin ini dipelajari teutama di Tomari ( hingga Restorasi Meiji, disebarkan ke Shuri dan Naha ). Kata ini sebelumnya dikenal dengan nama Wansu atau Wanshu ( Setelah seorang ahli beladiri Cina datang ke Okinawa ). Nama Kata ini diganti oleh Gichin Funakoshi. Yasutsune Itosu membuat perbaikan yang sangat berarti dari gerakan Kata yang asli.

Hal Penting
Tinggi rendah posisi badan, gerakan yang cepat ( kecepatan ). Memiliki 37 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.


Gankanku berarti burung bangau diatas karang ( nama ini diambil dari salah satu posisi dalam kata ini – ada posisi dimana seperti burung bangau dengan satu kaki, sebagai serangan dalam mempertahankan diri ). Ini merupakan Kata yang sudah sangat tua, aslinya bernama Chinto, kemudian namanya diubah oleh Gichin Funakoshi. Kata ini disempurnakan oleh Yasutsune Itosu. Gankaku merupakan Kata Shorin ( walaupun kadang dikatakan sebagai Kata Shorei ).

Hal Penting
Keseimbangan dan tendangan kesamping. Memiliki 42 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.


Arti dari Gion ( Kadang dibaca Jion ) belum ditemukan. Ini merupakan Kata Shorei yang diberi nama setelah rahib Cina datang ke Okinawa. Gion juga merupakan nama pura di Jepang dan Cina. Dan Gion dikenal sebagai nama rahib Budha Suci. Nama Kata ini tidak mengalami perubahan. Gion dipelajari di Tomari. Versi lain dari Kata Gion ini juga dipelajari aliran karate Wado-Ryu. Didalam mengambil nama dari rahib Budha Suci, Gion berkonotasi ketenangan, penuh kebanggaan, dan penuh kekuatan dalam mempelajarinya. Kata ini didemonstrasikan oleh Sensei Tanaka dalam buku The Best Karate.

Hal Penting
Ketenangan, gerakan penuh tenaga, dengan semangat bertarung yang hebat. Memiliki 47 gerakan dengan waktu aplikasi 60 detik.


Chinte berarti tangan ajaib. Kata ini merupakan Kata Shorin yang terdiri dari beberapa tehnik Cina yang tidak ditemukan dalam karate Shotokan. Finakoshi mengganti namanya menjadi Shoin, tetapi kemudian kembali lagi kenama yang dahulu. Sangat sulit untuk menguasai pengunaan tenaga yang benar pada kata ini.

Hal penting
Memiliki 33 gerakan.


19.       UNSU
Unsu berarti tangan bagaikan awan. Kata ini merupakan Kata Shorin tanpa diketahui asalnya. Tangan dengan arti tehnik tangan menyapu lawan seperti awan terbelah pisau dilangit. Masatoshi Nakayama mengingatkan bahwa Kata Unsu terlihat bagaikan “Burung gagak yang menakutkan mencoba menari “, jika Kata Heian, Kanku-Dai, Empi dan Gion sebelumnya telah dikuasai.

Hal Penting
Lompatan Tinggi dan rendah, tenik menendang, berpura-pura dan menggunakan beberapa bagian tubuh sebagai senjata. Memiliki 48 gerakan.

20.       SOCHIN
Sochin berarti perasaan/keadaan tenang ditengah orang (dan nama ini diambil dari posisi utama didalam Kata ini ). Kata Sochin merupakan Kata Shorei, dimodifikasi oleh Yoshitaka Funakoshi ( anak dari Gichin Funakoshi ).

Hal Penting
Lamban, gerakan penuh tenaga dan sikap sochin ( juga disebut sikap fudo-dachi ). Memilki 40 gerakan.


21.       NIJUSHIHO
Nijushiho berarti 24 ( dua puluh empat ) langkah ( sekarang memiliki 30 gerakan, tetapi aslinya adalah 24 gerakan kaki ). Makna dari Kata ini adalah sebuah gambaran alami aliran air atau ombak ( kadang gerakannya lamban dengan segala keagungan, kadang kuat dan cepat ). Kata ini merupakan Kata Shorin ( meskipun ada yang mengklaim sebagai Kata Shorei ). Kata ini adalah kata fovorit intruktur Frank Woon-A-Tai. Pada tahun1934 Guru Gichin Funakoshi memerintahkan Masatoshi Nakayama untuk mempelajari Kata ini dari Guru Shito-Ryu, Kenwa Mabuni. Kata ini secara bertahap disesuaikan dengan tehnik Shotokan.

Hal Penting
Penggabungan total dari bermacam kekuatan dan kecepatan ( Masatoshi Nakayama mengingatkan bahwa kata ini dapat menyerupai sebuah “tarian”tanpa kepandaian yang sempurna untuk melakukannya ).


Gojushiho-Dai berarti 54 ( lima puluh empat ) langkah ( sekarang 62 gerakan ). Kata Shorin ini terinspirasi dari seekor burung yang menyerang musuh dengan ketajaman paruhnya. Nama lamanya adalah Useshi. Kata ini asli dari Cina dan dipelajari di Cina hingga abad ke-20. Masatoshi Nakayama juga mempelajari Kata Gojushiho ketika dia belajar Nijushiho dengan Mabuni.

Hal Penting
Dengan segala kelembutan dan tehnik aliran.


Gojushiho-Sho berarti kata terendah di Kata Gojushiho. Kata ini merupakan Kata Shorin yang terinpirasi dari seekor burung yang menyerang musuh dengan ketajaman paruh, sayap dan cakarnya. Kemampuan tehnik tingkat tinggi sangat dibutuhkan untuk memainkan atau mengerti kata ini.

Hal Penting
Satu hal penting dalam Kata ini adalah tehnik tangan pedang. Memiliki 65 gerakan yang mudah dikacaukan dengan gerakan Gojushiho-Dai.


24.       MEIKYO
Meikyo berarti cermin membersihkan cermin ( kembali mengasah tehnik karate dengan latihan yang berulang untuk mendapatkan sebuah pengertian yang jernih tentang tehnik dan karakter karate ). Kata Shorei ini memiliki pengusaan tehnik dalam Kata Heian dengan bentuk kata yang lebih lunak  dan tenang. Nama asli Kata ini adalah Rohai. Kata ini merupakan Kata favorit Sensei Nakayama. Menurut cerita asli , Kata ini diambil dari sebuah tarian untuk meminta Tuhan memunculkan Dewa Matahari ( Amaterasu ) dari goa dimana dia bersembunyi.
Hal Penting
Memiliki 32 gerakan.


25.       WANKAN
Wankan berarti Mahkota Raja. Kata Shorin ini tidak dijelaskan dalam buku The Best Karate. Wankan adalah Kata terpendek dari semua kata aliran shotokan. Kata ini aslinya dipelajari di Tomari,  terdiri dari gerakan lembut dan ringan dari apa yang sekarang kita lihat dalam kata aliran shotokan.



Ji’in diciptakan sebagai sebuah penghormatan terhadap kematian dan ketenangan/penuh kekuatan dari Gion. Nama aslinya tidak diketahui dan namanya mungkin diambil dari sumber yang sama dengan Gion. Pembahasan tentang ini belum selesai dalam buku The Best Karate.

 

Istilah - istilah di dalam karate
Istilah Umum
Shoto
Nama yang diberikan Gichin Funakoshi, kumpulan cemara
Kan
Ruang, balai utama
Karate
Tangan kosong
Karateka
Orang yang berlatih karate
Sensei
Guru
Sempai
Senior
Kohai
Yunior
Kyu
Peringkat (dibawah sabuk hitam)
Dan
Peringkat (sabuk hitam)
Gi
Seragam
Obi
Sabuk
Do
Jalan, cara
Budo
Jalan peperangan, cara bertarung
Bushido
Jalan pendekar
Zanshin
Sikap tenang dan waspada
Kime
Fokus, konsentrasi
Osu
Ungkapan terima kasih, menunjukkan rasa hormat
Kihon
Dasar
Kumite
Bertanding
Kata
Bentuk resmi, kembangan
Dachi
Kuda-kuda
Tsuki
Pukulan
Geri
Tendangan
Uke
Tangkisan
Waza
Teknik
Kamae 
Posisi badan
Sen  
Inisiatif
Sundome
Menghentikan teknik tepat kira-kira 3 cm sebelum sasaran.
Onegai shimasu
“Aku memintamu berlatih denganku”
.
.
.
Istilah dalam hal perintah :
Perintah
Narande
Berbaris
Seiretsu
Berbaris sesuai urutan peringkat sabuk
Yoi
Siap
Yasume
Istirahat
Yame
Berhenti
Otaigai ni
Berhadapan satu sama lain
Sensei ni
Menghadap ke guru
Shomen ni
Menghadap ke depan
Rei
Membungkuk memberi hormat
Seiza
Duduk bermeditasi
Age-te
Tangan diatas (posisi menutupi)
Mawatte
Berputar
Hajime
Mulai
.
.
.
Istilah yang menunjukan arah, sasaran, target :


Arah
Mae
Depan
Ushiro
Belakang
Yoko
Samping
Tate
Vertikal
Mawashi
Memutar
Jodan
Sasaran atas
Chudan
Sasaran tengah
Gedan 
Sasaran bawah
Migi
Kanan
Hidari
Kiri
Tobi
Lompat
Gyaku
Kebalikan
Age
Atas
Soto
Keluar
Sokumen
Samping
Uchi
Kedalam
Otoshi
Menjatuhkan diri
.
.
.
Istilah yang menunjukan bagian badan :
Bagian-bagian badan
Ken
Tinju
Tate Ken
Tinju vertikal
Ippo ken
Ujung jari telunjuk
Kaishu
Tangan terbuka
Tekubi
Pergelangan
Teisho
Telapak tangan
Ude
Lengan depan
Empi
Siku
Ashi
Kaki
Ashikubi
Mata kaki
Hiza
Lutut
Ensho
Bagian belakang tumit
Teisoku
Bagian bawah kaki
Kakato
Tumit kaki
Sokuto
Pisau kaki
Tsumasaki
Ujung jari kaki
Atama
Kepala
Wan
Lengan  
Naiwan
Lengan belakang
Jiku ashi
Poros kaki
.
.
.
Istilah yang menunjukan warna :


Warna
Aka
Merah
Shiro
Putih
Ao
Biru
Murasaki
Ungu
Kuro
Hitam
Ki
Kuning
Midori 
Hijau
Cha
Coklat
.
.
.
Istilah yang menunjukan angka :
Angka
Ichi
Satu
Ni
Dua
San
Tiga
Shi
Empat
Go
Lima
Roku
Enam
Shichi
Tujuh
Hachi
Delapan
Ku
Sembilan
Ju
Sepuluh
Niju
Dua puluh
Niju go
Dua puluh lima
Hyaku
Seratus
Ippon
Pertama
Yon
Keempat
Gohon
Kelima


Kumite

Kumite (組手:くみて) secara harfiah berarti "pertemuan tangan". Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru atau lebih). Tetapi sekarang, ada dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula (sabuk kuning). Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite) praktisi mempelajari kumite yang diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite). Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan.
Untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa yang sudah mencapai tingkat dan (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.
Untuk aliran "kontak langsung" seperti Kyokushin, praktisi Karate sudah dibiasakan untuk melakukan kumite sejak sabuk biru strip. Praktisi Kyokushin diperkenankan untuk melancarkan tendangan dan pukulan sekuat tenaganya ke arah lawan bertanding.
Untuk aliran kombinasi seperti Wado-ryu, yang tekniknya terdiri atas kombinasi Karate dan Jujutsu, maka Kumite dibagi menjadi dua macam, yaitu Kumite untuk persiapan Shiai, yang dilatih hanya teknik-teknik yang diperbolehkan dalam pertandingan, dan Goshinjutsu Kumite atau Kumite untuk beladiri, semua teknik dipergunakan, termasuk jurus-jurus Jujutsu seperti bantingan, kuncian, dan menyerang titik vital.

Pertandingan Karate

Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu :
  1. Kumite (perkelahian) putera dan puteri
  2. Kata (jurus) putera dan puteri

Kumite

Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.

Kata

Pada pertandingan kata yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan Kata pilihan atau Kata wajib dalam peraturan pertandingan.
Para peserta harus memperagakan Kata wajib. Bila lulus, peserta akan mengikuti babak selanjutnya dan dapat memperagakan Kata pilihan.
Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu. Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan Kata , para peserta diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih.
Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-ryu, dengan perincian sebagai berikut:
  • Shotokan : Kankudai dan Jion.
  • Wado-ryu : Seishan dan Chinto.
  • Goju-ryu : Saifa dan Seipai.
  • Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai.
Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh perguruan 4 besar di atas.

Luas lapangan

  • Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi.
  • Arena pertandingan harus rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.
Pada Kumite Shiai yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut dibagi kedalam tiga warna yaitu putih, merah dan biru. Matras yang paling luar adalah batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau akan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif.

Peralatan dalam pertandingan karate

Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan karate
  1. Pakaian karate (karategi) untuk kontestan
  2. Pelindung tangan
  3. Pelindung tulang kering
  4. Ikat pinggang (Obi) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao
  5. Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:
    • Pelindung gusi (di beberapa pertandingan menjadi keharusan)
    • Pelindung tubuh untuk kontestan putri
    • Pelindung selangkangan untuk kontestan putera
  6. Peluit untuk arbitrator/alat tulis
  7. Seragam wasit/juri
    • Baju putih
    • Celana abu-abu
    • Dasi merah
    • Sepatu karet hitam tanpa sol
  8. Papan nilai
  9. Administrasi pertandingan
  10. Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat waktu (stop watch).
Tambahan: Khusus untuk Kyokushin, pelindung yang dipakai hanyalah pelindugn selangkangan untuk kontestan putra. Sedangkan pelindung yang lain tidak diperkenankan.

Aliran Karate

Seperti telah disinggung diatas, ada banyak aliran Karate di Jepang, dan sebagian dari aliran-aliran tersebut sudah masuk ke Indonesia.
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam "4 besar JKF" adalah sebagai berikut:

Shotokan

Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.

Goju-ryu

Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.

Shito-ryu

Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.

 

Wado-ryu

Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan kadang-kadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.